34-36. Esensi Kesucian Hati: Memahami Makna Raja' (Harapan)
Harapan (raja') pada hakikatnya adalah kelapangan dan kebahagiaan hati dalam menanti sesuatu yang dicintai. Namun, harapan yang tulus memiliki syarat. Jika kita mengharapkan sesuatu tanpa adanya sebab-sebab pendukung, hal itu bukanlah harapan, melainkan bentuk teperdaya
Dunia sebagai Ladang Akhirat
Para ulama ahli makrifat telah memahami bahwa dunia adalah tempat menanam bagi akhirat.
Hati diibaratkan sebagai tanah.
Iman adalah benih yang ditanam di dalamnya.
Ketaatan berfungsi bagai membajak tanah, membersihkannya, serta mengalirkan air melalui parit-parit ke dalam tanah tersebut.
"Hati yang terlalu mencintai, terbuai, dan tenggelam dalam urusan dunia bagaikan tanah tandus berbatu tempat benih tidak akan pernah bisa tumbuh. Ingatlah, hari kiamat kelak adalah masa panen raya."
Tidak ada yang akan menuai kecuali apa yang telah ia tanam. Benih pun tidak akan tumbuh subur tanpa adanya keimanan. Keimanan jarang memberikan manfaat jika dibersamai dengan hati yang kotor serta akhlak yang buruk.
Antara Harapan yang Nyata dan Angan-Angan Kosong
Harapan seorang hamba akan ampunan Allah SWT hendaknya diukur seperti harapan seorang petani:
Harapan yang Hakiki (Raja'): Seseorang mencari tanah yang subur, menanam benih yang unggul (tidak busuk), merawatnya tepat waktu, menyiangi duri dan rumput liar yang mengganggu, lalu duduk menanti karunia Allah SWT agar tanamannya dijauhkan dari bencana hingga masa panen tiba. Ketika seorang hamba menanam benih iman, menyiramnya dengan ketaatan, membersihkan hatinya dari duri akhlak tercela, lalu menanti keteguhan iman hingga akhir hayatnya, itulah harapan yang sejati.
Harapan yang Palsu (Gurur): Seseorang melempar benih di tanah yang keras, tandus, dan tinggi yang tidak terjangkau air, lalu ia membiarkannya tanpa perawatan sama sekali, namun tetap menanti hasil panen. Penantian seperti ini adalah kebodohan dan delusi.
Setiap harapan yang benar (raja') senantiasa menuntut tiga hal:
Mencintai apa yang diharapkan.
Memiliki rasa takut kehilangan hal tersebut.
Berusaha sungguh-sungguh untuk meraihnya.
Jika harapan tidak disertai ketiga hal ini, ia hanyalah sebatas angan-angan kosong (amaniy). Harapan sejati akan menuntun seseorang pada ketaatan dan mencegahnya dari kemaksiatan. Sedangkan harapan yang membuat seseorang malas dan larut dalam dosa adalah bentuk tipuan setan.
Kabar Gembira tentang Harapan
Petunjuk dari Al-Qur'an Allah SWT berfirman: "Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53)
"Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar memiliki ampunan bagi manusia atas kezaliman mereka..." (QS. Ar-Ra'd: 6)
Pesan Indah dari Baginda Nabi
Rasulullah SAW memberikan gambaran indah tentang betapa luasnya kasih sayang Allah SWT melalui beberapa riwayat:
Lebih Lembut dari Kasih Ibu: Ketika melihat seorang ibu tawanan perang yang langsung memeluk dan menyusui bayinya dengan penuh cinta, Rasulullah SAW bersabda: "Apakah menurut kalian wanita ini tega melemparkan anaknya ke dalam api?" Kami menjawab, "Tidak demi Allah." Beliau lalu bersabda: "Allah jauh lebih menyayangi hamba-Nya yang beriman daripada wanita ini kepada anaknya." (HR. Bukhari & Muslim).
Rahmat yang Mendominasi: "Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri-Nya sendiri sebelum menciptakan makhluk: 'Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.'" (HR. Bukhari & Muslim).
Ampunan yang Meluas: Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi: "Wahai anak Adam, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni dosa yang ada pada dirimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosamu mencapai setinggi langit kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni. Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku membawa dosa hampir seisi bumi lalu engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang kepadamu membawa ampunan sebesar itu pula." (HR. Tirmidzi).
Renungan Para Ulama
Yahya bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu pernah mengingatkan tentang bentuk teperdaya yang paling nyata:
Terus-menerus berbuat dosa namun berharap ampunan tanpa ada penyesalan.
Mendambakan kedekatan dengan Allah tanpa adanya ketaatan.
Menanti panen surga namun menanam benih neraka.
Menginginkan tempat orang-orang taat namun mendatunginya dengan maksiat.
Penyair Abu al-Atahiyah melantunkan bait syair di hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid yang membuatnya pingsan karena perenungan yang mendalam: Engkau mengharapkan keselamatan namun tidak menempuh jalannya, Ketahuilah bahwa bahtera tidak akan pernah berlayar di atas daratan kering.
Hakikat Khauf (Rasa Takut)
Khauf atau rasa takut adalah pecut Allah SWT untuk menggiring hamba-hamba-Nya menuju ilmu dan amal, agar dengannya mereka meraih kedekatan di sisi-Nya. Secara mendalam, khauf merupakan rasa perih dan terbakarnya hati karena mengkhawatirkan sesuatu yang buruk terjadi di masa depan. Rasa takut inilah yang menahan anggota tubuh dari kemaksiatan dan mengikatnya dalam ketaatan.
Takut yang Kurang: Akan melahirkan kelalaian dan keberanian untuk meremehkan dosa.
Takut yang Berlebihan: Akan menjerumuskan seseorang pada keputusasaan.
Rasa takut kepada Allah lahir dari pengenalan yang mendalam (makrifat) akan sifat-sifat Allah, kesadaran akan banyaknya dosa yang telah diperbuat, atau gabungan dari keduanya. Semakin seseorang mengenali aib dirinya dan mengagungkan keagungan Allah yang tidak dimintai pertanggungjawaban atas apa yang Dia perbuat, maka akan semakin kuat pula rasa takutnya.
"Orang yang paling takut kepada Tuhannya adalah orang yang paling mengenal dirinya dan Tuhannya."
Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mengenal Allah di antara kalian dan yang paling takut kepada-Nya." (HR. Bukhari & Muslim).
Ketika Imam Asy-Sya'bi ditanya, "Wahai orang alim (yang berilmu)?" Beliau menjawab dengan santun: "Orang alim hanyalah orang yang takut kepada Allah." Hal ini selaras dengan firman-Nya: "Sangat jelas, yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu)." (QS. Fatir: 28).