Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Waktu terus mengalir bagai air, melintasi detik demi detik, membawa kita semakin jauh dari masa-masa indah saat menimba ilmu di bawah bimbingan langsung sang murabbi. Namun, bagi seorang santri, jejak spiritual, keteladanan, dan pancaran ridha seorang guru tidak akan pernah luntur oleh gerusan zaman.
Menjelang peringatan Haul Romo Yai RA yang ke-14 yang insyaAllah jatuh pada Senin, 21 Muharrom 1448 H / 6 Juli 2026 M, batin kita kembali dipanggil. Ingatan kita ditarik mundur pada rute perjuangan luhur yang telah digariskan oleh guru mulia kita, Romo KH. Moh. Munawwar Adnan Kholil. Peringatan haul ini bukan sekadar ritual tahunan untuk mengenang kalender wafatnya beliau, bukan pula sebuah seremoni tanpa arti. Haul adalah sebuah momentum sakral untuk menghidupkan kembali nilai-nilai, prinsip hidup, visi dakwah, dan keluhuran akhlak yang melekat pada pribadi beliau.
Bagi seorang alumni, berkhidmah memiliki kedalaman makna yang melampaui batas kewajiban materi. berkhidmah adalah penyerahan diri yang tulus, sebuah pengabdian tanpa pamrih demi kemuliaan ilmu dan guru. Ketika jajaran Pengurus Pusat AL-IADAH mengetuk pintu hati kita melalui maklumat berkhidmah berupa dana, mari kita pandang instruksi ini dengan kacamata mahabbah (cinta).
Nilai tersebut bukanlah sebuah beban, bukan pula sekadar iuran organisasi. Itu adalah kehormatan. Sesuatu yang menjadi wasilah (perantara) dan jembatan pembuka pintu keberkahan hidup kita di luar pesantren. dengan berkhidmah itulah, kita sedang mengikat kembali tali batin, memastikan bahwa sanad keilmuan dan keterikatan spiritual kita dengan Romo Yai RA tetap tersambung dengan erat dan kokoh.
“Sambung sanad bukan sekadar tahu silsilah keilmuan, melainkan meleburnya frekuensi perjuangan seorang santri dengan cita-cita luhur sang guru. berkhidmah adalah bukti sahih bahwa kita masih mengakui beliau sebagai guru, dan berharap diakui sebagai muridnya di akhirat kelak.”
Merawat warisan perjuangan Beliau di tengah kepungan arus modernisasi hari ini menuntut konsistensi dan soliditas yang luar biasa dari segenap alumni. Bergeraknya para pengurus dan alumni di berbagai koordinat daerah mulai dari Gresik Utara, Gresik Selatan, Lamongan, Madura, Surabaya, hingga penjuru daerah lainnya adalah manifestasi nyata dari ajaran kebersamaan yang dulu sering beliau contohkan. Bersatunya jalinan koordinasi ini membuktikan bahwa jarak geografis tidak mampu memisahkan satu hati yang telah disatukan oleh ridha guru.
Mari kita renungkan sejenak di tengah kesibukan duniawi kita: Apa jadinya ilmu yang kita miliki hari ini tanpa adanya kucuran doa dan rida dari guru kita? Maka, momentum Haul ke-14 ini adalah waktu yang tepat untuk menepikan sejenak ego, menyisihkan sedikit dari rezeki yang sebetulnya merupakan buah dari doa-doa beliau, dan bergerak serentak demi menyukseskan majelis warisan beliau.
Wahai para alumni .... perawat sanad...
Mari kita pancarkan kembali semangat itu! Jangan biarkan kelalaian zaman memutus rantai keberkahan hidup kita. Mari kita respons maklumat dari Pengurus Pusat AL-IADAH ini dengan penuh sukacita dan keikhlasan yang murni. Saling mengingatkan antar sesama alumni, bergerak bersama di daerah masing-masing, dan menyukseskan agenda luhur ini.
Semoga setiap rupiah yang kita infakkan, setiap langkah kaki yang kita ayunkan, serta setiap untaian doa yang kita panjatkan untuk Romo Yai RA, menjadi saksi yang meringankan langkah kita di akhirat kelak. Semoga kita tercatat sebagai santri yang tahu budi dan setia menjaga warisan perjuangannya hingga akhir hayat.
Amin Ya Rabbal 'Alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
by.@aliadahonline
kaya limu mulya akhlak
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Waktu boleh saja terus melangkah jauh, membawa raga kita keluar dari gerbang suci Pondok Pesantren Daruttaqwa. Kesibukan dunia, gemuruh profesi, dan hiruk-pikuk kehidupan modern seringkali menyita perhatian kita. Namun, ada satu ikatan yang tidak akan pernah luntur oleh jarak, dan tidak akan pernah usang oleh waktu: ikatan ruhani antara santri dan sang guru.
Melalui wadah Al-I'adah, setiap bulan sekali kita dipanggil pulang. Bukan sekadar pulang secara fisik untuk melepas rindu dengan sesama alumni, melainkan pulang secara maknawi—mengetuk kembali pintu-pintu keberkahan yang pernah kita reguk bersama di pesantren. Ngaji bulanan ini adalah oase di tengah padang pasir kehidupan, tempat kita membasuh debu-debu kelalaian yang melekat pada hati selama sebulan penuh.
Sebagaimana petuah bijak (Kalam Motivasi) yang terpampang indah
"Seberapa penting kamu menganggap majlis warisan seorang guru, seperti itu cerminan mahabbah seseorang tergambar."
Kalimat ini bukanlah sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah cermin jernih untuk mengintip ke dalam lubuk hati kita masing-masing. Mahabbah (rasa cinta) kepada guru tidaklah cukup di lisan. Ia menuntut bukti, dan bukti paling nyata dari cinta itu adalah bagaimana kita memperlakukan warisannya. Majlis ilmu, pengajian bulanan, dan istiqamah dalam silaturahmi adalah warisan berharga yang ditinggalkan atau diamanahkan oleh guru-guru kita.
Ketika kita meringankan langkah, meluangkan waktu di antara tumpukan kesibukan demi menghadiri majlis Al-I'adah, di situlah kadar cinta kita kepada guru sedang diuji dan digambarkan. Menghadiri majlis ini berarti kita sedang menjaga ketersambungan sanad keilmuan, merawat berkah, dan mengalirkan doa-doa yang tulus kepada beliau yang telah membuka mata batin kita mengenal Ilahi.
Mari kita jadikan rutinitas sebulan sekali ini sebagai agenda sakral. Bukan karena kita memiliki waktu luang, melainkan karena kita sengaja meluangkan waktu. Sebab di majlis warisan guru inilah, iman kita dicas kembali, ukhuwah kita dipererat, dan ridha sang guru yang bermuara pada ridha Allah SWT kembali kita jemput.
Sampai jumpa di majlis Al-I'adah, wahai para perindu keberkahan Daruttaqwa. Mari kita rawat mahabbah ini hingga akhir hayat.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
by.@aliadahonline
kaya limu mulya akhlak