24-25. MERAWAT HATI DENGAN MUHASABAH
Urgensi Menghitung Diri Sebelum Dihitung
Sahabat, hati seorang mukmin senantiasa rentan terhadap dominasi nafsu yang menyuruh kepada keburukan (ammarah bis-su'). Obat penawar yang paling mujarab untuk mengatasinya adalah dengan rutin mengevaluasi diri (muhasabah) dan berani menyelisihi keinginan nafsu tersebut.
Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sementara orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, lalu berangan-angan kosong kepada Allah." (HR. Ahmad & Tirmidzi).
Sayyidina Umar bin Khattab RA juga pernah mengingatkan kita:
Hitunglah amalmu hari ini: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab kelak, dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang."
Meringankan masa depan: "Sebab, mengevaluasi diri hari ini jauh lebih ringan daripada menghadapi hisab yang berat di hari esok."
Bersiap untuk hari besar: "Bersiaplah untuk hari menghadap yang paling besar (Hari Kiamat)." Pada hari itu, segala urusan kita akan terpapar jelas, dan tidak ada satu pun rahasia yang dapat disembunyikan.
Seorang mukmin sejati adalah pengawas bagi dirinya sendiri. Ia sadar bahwa setiap embusan napas dalam hidup ini adalah permata yang sangat berharga. Dengan napas itu, kita bisa membeli kenikmatan abadi di surga. Alangkah ruginya jika waktu yang berharga ini disia-siakan, atau justru digunakan untuk membeli kebinasaan sendiri. Kerasnya kerugian ini baru akan benar-benar disadari pada Yaumut Taghabun (Hari Ditampakkannya Kesalahan).
Muhasabah Sebelum Melangkah (Tipe Pertama)
Muhasabah yang pertama dilakukan sebelum kita berbuat. Ketika sebuah keinginan atau rencana terbersit di dalam hati, jangan terburu-buru melangkah. Berhentilah sejenak untuk menimbang, apakah perbuatan tersebut membawa maslahat atau justru mudarat. Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Muslim).
Panduan Berpikir Sebelum Bertindak:
Uji Kemaslahatan (Imam An-Nawawi): Sebelum berbicara atau bertindak, pastikan ada kebaikan nyata di dalamnya (baik wajib atau sunah). Jika ragu apakah hal itu berbuah pahala, atau justru mengandung makruh dan haram, maka menahan diri adalah pilihan terbaik.
Uji Dampak (Imam Asy-Syafii): Pikirkan matang-matang. Jika dirasa tidak membawa dampak buruk (dharar), silakan berbicara/melangkah. Namun, jika ada dampak buruk atau bahkan baru sekadar ragu-ragu, lebih baik urungkan.
4 Tahapan Berhenti Sejenak (Waqfah):
Ketika hati Anda tergerak untuk melakukan sesuatu, lalui empat tahapan perenungan ini:
Apakah ini mampu dilakukan? Jika tidak realistis atau berada di luar kemampuan, jangan paksakan diri.
Apakah melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya? Jika meninggalkannya justru lebih baik, maka tinggalkan.
Apa niat utama yang menggerakkannya? Apakah murni karena mencari rida Allah, atau demi mengejar kedudukan, pujian, dan harta dari makhluk? Jika karena makhluk, urungkan. Jangan biarkan jiwa terbiasa dengan riya atau syirik, karena hal itu akan membuat amal karena Allah terasa sangat berat dilakukan.
Apakah ada sarana atau penolongnya? Jika amalan tersebut membutuhkan bantuan orang lain, lihatlah apakah ada pendukungnya? Jika belum ada, tahan diri dahulu. Sebagaimana Rasulullah SAW menahan diri dari jihad saat di Makkah sampai beliau memiliki kekuatan dan penolong di Madinah.
Muhasabah Setelah Melangkah (Tipe Kedua)
Muhasabah tipe kedua dilakukan setelah amalan selesai dikerjakan. Bentuk evaluasinya terbagi menjadi tiga hal:
1. Evaluasi Ketaatan yang Kurang Maksimal Periksa kembali ibadah kita kepada Allah, apakah sudah memenuhi 6 pilar kesempurnaan taat berikut:
Ikhlas: Murni karena Allah.
An-Nashihah: Ketulusan dan kesungguhan dalam menunaikan ibadah.
Mutaba'ah: Mengikuti tuntunan Rasulullah SAW
Ihsan: Merasa diawasi atau melihat Allah saat beribadah.
Syuhudul Minnah: Sadar bahwa bisa beribadah semata-mata karena taufik dan anugerah dari Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri.
Syuhudut Taqshir: Mengakui bahwa diri ini masih penuh kekurangan dalam beribadah.
2. Evaluasi Perbuatan yang Seharusnya Ditinggalkan Koreksi kembali setiap tindakan yang sebenarnya jauh lebih baik jika kita tinggalkan daripada dikerjakan.
3. Evaluasi Terhadap Hal Mubah (Boleh) Tanyakan pada diri saat melakukan hal yang mubah: "Apakah aktivitas ini diniatkan untuk Allah dan akhirat sehingga bernilai pahala, ataukah murni demi duniawi sehingga kehilangan keuntungan akhirat?"
Bahaya Kelengahan dan Cara Membenahinya
Puncak dari segala kebinasaan adalah sikap abai, membiarkan diri hanyut dalam kelalaian, meremehkan urusan, dan menunda-nunda tobat. Orang yang teperdaya akan memejamkan mata dari konsekuensi masa depan, terlalu menggampangkan ampunan Allah, hingga akhirnya terbiasa berbuat dosa dan sulit untuk menyapih jiwanya dari maksiat.
Peta Jalan Memperbaiki Diri:
Untuk memulai kembali, susunlah urutan evaluasi diri Anda secara sistematis:
Koreksi Urusan Wajib (Faridhah): Jika ada yang kurang atau luput, segera qada (ganti) atau perbaiki kualitasnya.
Koreksi Larangan (Manahi): Jika sadar telah melanggarnya, segera tebus dengan tobat nasuha, istigfar, dan perbanyak amal kebaikan yang dapat menghapus dosa.
Koreksi Kelalaian (Ghaflah): Jika hati sempat lalai dari tujuan penciptaan, segera obati dengan zikir dan kembali mendekatkan diri kepada Allah.
Koreksi Anggota Tubuh: Tanyakan pada ucapan lidah, langkah kaki, tindakan tangan, hingga pendengaran telinga: "Apa niatmu melakukan itu? Untuk apa? Dan dengan cara bagaimana?"
Ketahuilah, setiap gerakan dan ucapan kita kelak akan dihadapkan pada dua pertanyaan besar:
"Untuk siapa kamu lakukan?" (Pertanyaan tentang keikhlasan).
"Bagaimana cara kamu lakukan?" (Pertanyaan tentang kesesuaian syariat/mutaba'ah).
Jika orang-orang yang jujur (ash-shadiqin) saja akan ditanya dan dihisap atas kejujuran mereka, maka bagaimana dengan nasib orang-orang yang berdusta?
Memetik Indahnya Buah Muhasabah
Sahabat, buah yang akan kita petik saat konsisten menghitung diri adalah:
Mampu Melihat Aib Diri Sendiri Kita menjadi sadar betapa banyaknya kekurangan kita sehingga fokus memperbaikinya. Mengenai hal ini, Imam Muhammad bin Wasi' pernah berucap: "Seandainya dosa itu memiliki aroma busuk yang tercium, niscaya tidak akan ada seorang pun yang sudi duduk bersamaku." Begitupun Abu Darda RA yang mengingatkan bahwa kefasihan iman seseorang diuji saat ia mampu melihat kekurangan dirinya dengan jujur, lalu mendidik jiwanya dengan tegas demi rida Allah.
Mengenal Hak Allah yang Sebenarnya Muhasabah menyadarkan kita bahwa hak Allah atas hamba-Nya adalah ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikufuri. Kesadaran ini akan mengikis sifat ujub (bangga diri), mematikan rasa merasa shalih, serta membuka lebar-lebar pintu ketundukan, kehinaan, dan kepasrahan yang tulus di hadapan Allah.