32. Menyelami Makna Cinta kepada Allah SWT


Puncak Tertinggi Segala Makam Spiritual

Cinta kepada Allah (Mahabbatullah) adalah tujuan akhir yang paling utama dan kedudukan tertinggi bagi seorang hamba. Setiap pencapaian spiritual setelah meraih cinta-Nya merupakan buah manis dan dampak langsung dari cinta tersebut, seperti rasa rindu (asysyawq), kedekatan yang menenteramkan (al-uns), dan keridaan. Sebaliknya, setiap maqam sebelum cinta seperti pertobatan, kesabaran, dan kezuhudan hanyalah jembatan dan pengantar menuju cinta kepada-Nya.


Hakikat Cinta dan Penghambaan yang Hakiki

Bentuk cinta yang paling bermanfaat, paling wajib, serta paling agung adalah mencintai Zat yang hati manusia memang diciptakan dan condong untuk mencintai-Nya. Dialah Tuhan yang dipuja oleh hati melalui rasa cinta, pengagungan, penghormatan, ketundukan, dan peribadatan. Ibadah yang sejati tidak layak ditujukan kecuali hanya kepada-Nya, di mana ibadah tersebut merupakan perpaduan sempurna antara puncak rasa cinta dan puncak rasa tunduk serta merendahkan diri di hadapan-Nya.


Fitrah dan Kesaksian Alam Semesta untuk Mencintai-Nya

Allah SWT dicintai karena Zat-Nya dari segala sisi, sedangkan mencintai selain-Nya hanyalah bentuk pengikutan dari cinta kepada-Nya. Kewajiban mencintai Allah telah ditegaskan oleh seluruh kitab suci yang diturunkan, dakwah para rasul, fitrah kesucian manusia, akal sehat, serta hamparan nikmat yang dicurahkan-Nya. Hati manusia secara alami dirancang untuk mencintai siapa pun yang berbuat baik kepadanya. Maka, bagaimanakah mungkin hati tidak mencintai Zat yang seluruh kebaikan bersumber dari-Nya semata, tanpa sekutu bagi-Nya?  Sebagaimana firman Allah: "Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan."*(QS. An-Nahl: 53) 


Tingkatan Cinta yang Sempurna

Orang-orang beriman memiliki cinta yang sangat kuat kepada Allah, melampaui cinta kaum musyrik kepada tandingan-tandingan selain Allah. Allah berfirman: "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah." (QS. Al-Baqarah: 165) Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan bahwa keimanan seseorang belum sempurna hingga beliau menjadi yang paling dicintai melebihi anak, orang tua, seluruh manusia, bahkan dari diri sendiri. Jika Rasulullah SAW saja lebih utama untuk dicintai daripada diri kita sendiri, maka Allah Jalla Jalaluhu tentu jauh lebih utama untuk dicintai dan diibadahi.


Segala Ketetapan-Nya adalah Undangan Cinta

Setiap ketetapan yang Allah berikan kepada hamba-Nya baik yang disukai maupun yang dibenci merupakan seruan untuk mencintai-Nya. Pemberian-Nya, penahanan-Nya, keselamatan, ujian, kelapangan, keadilan, karunia, kehidupan, hingga kesabaran-Nya dalam menutupi aib dan mengabulkan doa hamba-Nya, semuanya adalah alasan bagi hati untuk mencintai-Nya. Jika seorang makhluk melakukan sedikit saja kebaikan kepada makhluk lain, hati pasti akan terpikat. Maka, bagaimana mungkin seorang hamba tidak menyerahkan seluruh hati dan raga-Nya kepada Zat yang senantiasa berbuat baik dalam setiap embusan napas, bahkan ketika hamba tersebut berbuat dosa? 


Perbedaan Cinta Makhluk dan Cinta Khaliq

Terdapat perbedaan mendasar antara interaksi bersama manusia dan interaksi bersama Allah:

Tujuan Cinta: Setiap makhluk yang mencintaimu pasti menginginkan sesuatu darimu untuk kepentingan dirinya sendiri, sedangkan Allah menginginkanmu demi kebaikan dirimu sendiri.

Keuntungan Transaksi: Manusia tidak akan bertransaksi denganmu kecuali mereka mendapatkan keuntungan. Sementara Allah bertransaksi denganmu agar kamulah yang meraih keuntungan terbesar: satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, sedangkan satu keburukan hanya dihitung satu dan menjadi hal yang paling cepat dihapuskan.

Kemurahan-Nya: Allah menciptakanmu untuk diri-Nya, dan menciptakan dunia ini untukmu. Dia adalah Zat Yang Maha Dermawan, yang memberi sebelum diminta, menghargai amal yang sedikit, mengampuni dosa yang banyak, serta tidak pernah jemu mendengar rintihan doa hamba-Nya.


Zat yang Paling Berhak Disembah dan Dicintai

Allah adalah Zat yang paling berhak diingat, disyukuri, disembah, dan dipuji. Dia lebih menyayangi hamba-Nya melebihi kasih sayang seorang ibu kepada bayinya, dan Dia sangat gembira menerima pertobatan hamba-Nya. Dia ditaati lalu bersyukur, dan Dia didurhakai lalu mengampuni. Segala urusan makhluk menjadi baik karena-Nya, amal malam dan siang diangkat kepada-Nya, dan cahaya wajah-Nya mampu menerangi segala kegelapan. Hijab-Nya adalah cahaya, yang jika disingkap, maka keagungan wajah-Nya akan menghanguskan seluruh makhluk sejauh pandangan-Nya.


Cinta adalah Kehidupan dan Nutrisi Hati

Cinta kepada Allah adalah kehidupan bagi hati dan nutrisi bagi raga. Tidak ada kelezatan, kebahagiaan, keberuntungan, maupun kehidupan yang sejati bagi hati tanpa adanya cinta kepada-Nya. Jika hati kehilangan cinta ini, rasa sakitnya jauh lebih dahsyat daripada mata yang kehilangan cahayanya atau telinga yang kehilangan pendengarannya. Bahkan, rusaknya hati yang hampa dari cinta kepada Sang Pencipta jauh lebih mengerikan daripada matinya raga yang ditinggalkan oleh ruh. Namun, kebenaran ini hanya akan diyakini oleh mereka yang hatinya masih memiliki kehidupan, sebab luka tidak akan terasa sakit bagi jasad yang telah mati.


Renungan dan Untaian Hikmah Para Kekasih Allah

Keindahan cinta ini terekam dalam untaian hikmah para ulama terdahulu:

Fath al-Maushili rahimahullah berkata: Orang yang benar-benar mencintai Allah tidak akan merasakan kelezatan duniawi (yang melalaikan), dan matanya tidak akan pernah lengah dari mengingat Allah walau sekejap mata.

Ibnu al-Mubaral rahimahullah mendendangkan bait syair yang penuh perenungan: