33. Menemukan Kedamaian dalam Ketetapan-Nya
1. Dua Tingkatan Menghadapi Ujian
Saat sesuatu yang tidak kita sukai terjadi, ada dua tingkatan sikap yang bisa diambil oleh seorang hamba:
Sabar: Menahan diri dari rasa benci dan murka meski hati merasa pedih, menahan anggota tubuh dari mengeluh, seraya tetap berharap agar ujian tersebut segera diangkat. Sikap sabar ini hukumnya adalah wajib bagi setiap mukmin.
Ridha: Sebuah keutamaan yang sangat dianjurkan (mandub). Rida adalah kelapangan dada dalam menerima ketetapan, tanpa menuntut hilangnya rasa sakit yang dialami.
2. Rahasia di Balik Hati yang Ridha
Mengapa orang-orang yang rida bisa begitu tenang? Ada dua cara pandang yang mereka miliki:
Melihat Hikmah: Mereka menyadari sepenuhnya hikmah dan pilihan terbaik yang telah Allah tetapkan di balik sebuah ujian, serta tahu bahwa Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan takdir-Nya.
Melihat Keagungan Allah: Mereka begitu terpukau oleh keagungan, kebesaran, dan kesempurnaan Allah yang memberi ujian. Bagi tingkat makrifat dan cinta yang mendalam ini, rasa sakit bisa menjelma menjadi kebahagiaan karena mereka tahu ujian itu datang dari Sang Kekasih.
Rasa rida inilah yang melapangkan dada. Melalui keyakinan (yakin) dan makrifat, rasa sakit akan terasa lebih ringan, bahkan bisa jadi sirna sepenuhnya dari hati.
3. Buah dari Rida dan Bahaya Murka
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita tentang keadilan takdir ini: "Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang rida, maka baginya keridaan Allah. Dan siapa yang murka, maka baginya kemurkaan-Nya." (HR. Tirmidzi dan As-Suyuthi).
Sahabat Nabi, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, juga menegaskan bahwa Allah dengan keadilan dan ilmu-Nya telah meletakkan ketenangan dan kegembiraan di dalam keyakinan serta keridaan. Sebaliknya, kegelisahan dan kesedihan diletakkan di dalam keraguan serta rasa tidak ridha.
4. Menghidupkan Hati Melalui Musibah
Mengenai firman Allah, "Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya" (QS. At-Taghabun: 11), Alqamah menjelaskan makna mendalam di baliknya:
Itu adalah musibah yang menimpa seseorang, namun ia tahu bahwa musibah tersebut datang dari Allah, sehingga ia berserah diri dan rida menerimanya.
Ketika kita mampu rida dan qanaah (merasa cukup), itulah hakikat dari "kehidupan yang baik" (hayatan tayyibah) yang dijanjikan Allah dalam Al-Qur'an (QS. An-Nahl: 97).
5. Untaian Hikmah Para Kekasih Allah
Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah: Saat melihat Adi bin Hatim tengah bersedih karena kehilangan dua putranya dan sebelah matanya, Ali menghiburnya : "Wahai Adi, siapa yang rida dengan ketetapan Allah, takdir itu akan tetap berlaku padanya dan ia mendapatkan pahala. Namun siapa yang tidak rida, takdir itu pun tetap berlaku padanya, sedangkan amalnya terhapus."
Abu Darda radhiyallahu 'anhu: Ketika mendapati seorang lelaki yang memuji Allah di detik-detik kematiannya, Abu Darda berkata : "Engkau telah melakukan hal yang benar. Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla, apabila telah menetapkan suatu keputusan, Dia senang jika keputusan-Nya itu diridai."
Hasan Al-Bashri radhiyallahu 'anhu: "Siapa yang rida dengan apa yang dibagikan (ditakdirkan) untuknya, niscaya takdir itu akan meluangkan jalannya dan Allah memberkahinya. Namun siapa yang tidak rida, niscaya takdir itu terasa menyempitkannya dan tidak ada berkah di dalamnya."
Umar bin Abdul Aziz: "Tidak ada lagi kegembiraan yang tersisa bagiku, kecuali pada apa yang telah ditakdirkan oleh Allah." Ketika ditanya apa yang beliau inginkan, beliau menjawab: "Apa saja yang ditetapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla."
6. Puncak Derajat di Akhirat
Abdul الواحد bin Zaid rahimahullah pernah berkata bahwa rida adalah pintu Allah yang paling agung, surga di dunia, serta tempat beristirahatnya para ahli ibadah.
Kelak di akhirat, tidak ada yang memiliki derajat lebih tinggi daripada mereka yang senantiasa rida kepada Allah dalam segala keadaan. Siapa pun yang dianugerahi rasa rida di dalam hatinya, sesungguhnya ia telah mencapai tingkatan kedudukan yang paling utama.