20. Menaklukkan Diri: Gerbang Menuju Sang Pencipta
Dalam perjalanan spiritual menuju Allah, para penempuh jalan kebenaran—meski menempuh rute yang berbeda-beda—telah bersepakat pada satu titik krusial: Nafsu adalah penghalang utama. Ia tegak berdiri memisahkan hati seorang hamba dengan Tuhannya. Seseorang tidak akan pernah benar-benar "sampai" kepada Allah sebelum ia mampu menundukkan nafsunya, meninggalkannya dengan cara menyelisihi keinginannya, dan akhirnya memenangkan pertarungan melawan ego tersebut.
Dalam pergulatan ini, umat manusia terbagi menjadi dua golongan besar:
Mereka yang Kalah oleh Dirinya Sendiri
Golongan ini adalah orang-orang yang ditaklukkan oleh nafsunya. Ego mereka memegang kendali penuh, memimpin mereka pada kehancuran, hingga mereka menjadi budak yang patuh di bawah perintah-perintah hawa nafsu.
Mereka yang Memenangkan Pertarungan Batin
Inilah golongan yang berhasil menaklukkan nafsu mereka. Mereka memegang kendali hingga nafsu itu tunduk dan patuh mengikuti perintah mereka. Seorang arif pernah berucap bahwa puncak perjalanan seorang pencari Tuhan adalah keberhasilan menaklukkan diri sendiri.
Siapa yang menang atas dirinya, ia akan beruntung dan sukses.
Siapa yang kalah oleh dirinya, ia akan rugi dan binasa.
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Surah An-Nazi'at ayat 37-41 yang menegaskan bahwa mereka yang melampaui batas dan memuja dunia, nerakalah tempatnya. Namun, bagi mereka yang takut akan keagungan Tuhannya dan mampu menahan diri dari keinginan rendah (hawa nafsu), maka surgalah tempat kembalinya.
Hati: Medan Tempur Dua Kekuatan
Ketahuilah bahwa nafsu akan selalu menarik manusia menuju kesombongan (thughyan) dan memuja kehidupan dunia yang semu. Di sisi lain, Allah memanggil hamba-Nya untuk memiliki rasa takut (takwa) kepada-Nya dan menahan diri dari hawa nafsu.
Di sinilah letak ujian sesungguhnya: Hati manusia berada di tengah-tengah dua tarikan tersebut. Kadang ia condong mengikuti panggilan nafsu, dan di saat lain ia condong mengikuti seruan Tuhannya.
Satu Hakikat, Tiga Wajah Nafsu
Dalam Al-Qur'an, Allah menyematkan tiga sifat pada nafsu manusia: Muthmainnah (yang tenang), Lawwamah (yang mencela diri), dan Ammarah bis-su' (yang mendorong pada keburukan). Hal ini menimbulkan diskusi menarik di kalangan ulama:
Perspektif Ahli Fiqh & Tafsir: Mereka berpendapat bahwa nafsu itu pada dasarnya satu, namun memiliki sifat yang berubah-ubah.
Perspektif Ahli Tasawuf: Sebagian berpendapat seolah manusia memiliki tiga jiwa yang berbeda.
Kesimpulannya: Sebenarnya tidak ada pertentangan di antara keduanya. Para peneliti hakikat menjelaskan bahwa nafsu itu pada dasarnya adalah satu zat (hakikat), namun ia menyandang tiga sifat yang berbeda tergantung pada kondisinya.