18-19. Hakikat Zuhud dan Kerendahan Dunia


Zuhud bukan berarti memusuhi dunia, melainkan memposisikan dunia di tempat yang semestinya: di tangan, bukan di hati.


Rahasia Dicintai Allah dan Manusia

Diriwayatkan dari Abu al-Abbas Sahl bin Sa’ad al-Sa’idi, seorang pria mendatangi Nabi ﷺ dan bertanya, "Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang jika aku kerjakan, aku akan dicintai oleh Allah dan juga dicintai oleh manusia."

Rasulullah menjawab: "Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, maka manusia akan mencintaimu." (HR. Ibnu Majah).

Jika cinta Allah adalah kedudukan tertinggi yang bisa dicapai seorang hamba, maka zuhud adalah jalan terbaik menuju ke sana. Zuhud pada dasarnya adalah memalingkan keinginan dari sesuatu menuju sesuatu yang jauh lebih baik.


Perumpamaan: Permata Melawan Es yang Mencair

Siapa pun yang menyadari bahwa apa yang ada di sisi Allah itu kekal, ia akan paham bahwa akhirat jauh lebih baik.

Sejauh mana keyakinan kita terhadap perbedaan nilai antara "es" (dunia) dan "permata" (akhirat), sejauh itulah kekuatan kita untuk "menjual" yang fana demi membeli yang baka.


Dunia dalam Pandangan Allah: Lebih Hina dari Bangkai Kambing

Banyak hadis yang menjelaskan betapa rendahnya dunia di mata Sang Pencipta:

Kisah Bangkai Kambing: Nabi pernah melewati pasar dan melihat bangkai anak kambing yang telinganya cacat. Beliau bertanya, "Siapa yang mau membeli ini seharga satu dirham?" Orang-orang menjawab bahwa mereka tidak menginginkannya meski gratis. Rasulullah lalu bersumpah, "Demi Allah, dunia ini lebih hina bagi Allah daripada bangkai ini bagi kalian." (HR. Muslim).

Setetes Air di Samudra: Perbandingan dunia dengan akhirat hanyalah seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke lautan luas, lalu melihat tetesan air yang tersisa di ujung jarinya.

Sayap Nyamuk: Seandainya dunia ini bernilai seberat sayap nyamuk saja di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikan seteguk air pun kepada orang kafir.


Tiga Pilar Zuhud dalam Hati

Imam Yunus bin Maisarah menegaskan bahwa zuhud bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta. Zuhud adalah kondisi hati yang mencakup tiga hal:

Percaya Penuh pada Kekuasaan Allah: Kamu lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah (takdir dan rezeki-Nya) daripada apa yang sedang kamu pegang sendiri.

Tegar Menghadapi Musibah: Ketika kehilangan harta atau orang tercinta, kamu lebih mengharapkan pahala dari kehilangan tersebut daripada andai hal itu tetap ada padamu. Ini lahir dari kesempurnaan keyakinan.

Hambar terhadap Pujian dan Celaan: Bagimu, orang yang memuji dan orang yang mencela dalam kebenaran adalah sama. Hati yang terlalu mencintai dunia biasanya akan takut dicela dan gila pujian, hingga berani meninggalkan kebenaran demi mencari muka di mata manusia.


Tingkatan dan Klasifikasi Zuhud

Ibrahim bin Adham membagi zuhud menjadi tiga jenis:

Zuhud Wajib: Meninggalkan hal-hal yang haram.

Zuhud Keutamaan (Fadhl): Meninggalkan hal-hal yang halal (secara berlebihan).

Zuhud Keselamatan: Meninggalkan hal-hal yang syubhat (meragukan).


Tiga Derajat Pendakian Hati

Dalam perjalanannya, seorang hamba melewati tingkatan berikut:

Derajat Pertama (Mutazahid): Ia berusaha zuhud meski hatinya masih terpikat dunia. Ia terus berjuang melawan nafsunya.

Derajat Kedua: Ia meninggalkan dunia dengan sukarela karena meremehkannya. Namun, ia masih "melihat" zuhudnya (merasa dirinya hebat karena telah berkorban).

Derajat Ketiga (Puncak): Ia zuhud bahkan terhadap "perasaan zuhudnya" sendiri. Ia merasa tidak meninggalkan apa-apa. Ibarat seseorang yang ingin masuk ke istana raja, lalu ia melemparkan sekerat roti kepada seekor anjing yang menghalangi pintu agar ia bisa masuk. Baginya, dunia hanyalah sekerat roti itu, dan tujuannya adalah Sang Raja (Allah). Bagaimana mungkin ia masih melirik roti tersebut saat ia sudah berada di hadapan Sang Raja?.


Renungan: "Yakinlah bahwa tidak ada yang bisa memberikan rasa tenang selain rida kepada Allah. Kegelisahan dan kesedihan lahir dari ketidakpuasan dan keraguan terhadap takdir-Nya.".