01. Hakikat Keikhlasan: Memurnikan Hati untuk Sang Khalik.
1. Definisi dan Kedudukan Ikhlas
Ikhlas adalah upaya memurnikan niat dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT dari segala bentuk campuran kepentingan duniawi. Keikhlasan juga dimaknai sebagai kondisi di mana seseorang telah "melupakan" pandangan makhluk karena perhatiannya telah sepenuhnya terserap oleh pandangan Sang Pencipta.
Ikhlas merupakan syarat mutlak agar amal saleh yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW diterima di sisi Allah. Hal ini selaras dengan perintah-Nya dalam Al-Qur'an: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..." (QS. Al-Bayyinah: 5)
2. Ikhlas sebagai Penjaga Hati
Dalam sebuah hadits yang disampaikan saat Haji Wada, Rasulullah SAW bersabda bahwa ada tiga hal yang membuat hati seorang mukmin terhindar dari pengkhianatan dan kerusakan:
Ikhlas dalam beramal* karena Allah semata.
Saling menasihati* terhadap para pemimpin kaum muslimin.
Berpegang teguh pada jamaah* (kebersamaan) kaum muslimin.
Ketiga hal ini merupakan obat mujarab bagi hati. Siapa pun yang menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut, maka hatinya akan bersih dari segala bentuk kecurangan, kerusakan, dan keburukan. Selain itu, keikhlasan adalah satu-satunya perisai yang dapat menyelamatkan seorang hamba dari jeratan setan.
3. Tantangan dalam Mencapai Keikhlasan
Keikhlasan adalah perkara yang sangat mulia sekaligus sulit dicapai karena hati manusia sering kali terikat pada kesenangan duniawi dan syahwat.
Gangguan Kesenangan Dunia: Sekecil apa pun keinginan duniawi yang menyusup ke dalam suatu amal, hal itu dapat mengeruhkan kemurnian dan menghapus keikhlasannya.
Kelangkaan Ikhlas: Saking sulitnya menjaga hati, dikatakan bahwa jika seseorang berhasil memiliki satu momen saja dalam hidupnya yang benar-benar murni karena Allah, maka ia akan selamat.
Syarat Kemurnian: Keikhlasan sejati hanya bisa dibayangkan oleh mereka yang mencintai Allah dan seluruh tujuannya tercurah untuk akhirat hingga cinta dunia tidak lagi memiliki tempat di hatinya.
4. Bahaya Riya yang Tersembunyi
Seringkali seseorang tidak menyadari adanya noda dalam amalnya. Sebagai contoh, dikisahkan seseorang yang selalu shalat di barisan (shaf) pertama. Suatu hari ia terlambat dan harus shalat di barisan kedua, lalu ia merasa malu dilihat orang lain. Di situlah ia menyadari bahwa ketenangannya selama ini di barisan pertama ternyata bersumber dari keinginan untuk dipandang manusia, bukan semata-mata karena Allah.
Bagi mereka yang lalai, kebaikan-kebaikan yang mereka banggakan di dunia bisa jadi tampak sebagai keburukan di hari kiamat. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah: "Katakanlah: 'Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.'" (QS. Al-Kahfi: 103-104).
5. Mutiara Hikmah dari Para Ulama
Beberapa kutipan mendalam mengenai ikhlas dari para imam terdahulu:
Imam Ya'qub: "Orang yang ikhlas adalah ia yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya."
Imam As-Sanusi: "Ikhlas yang sejati adalah saat engkau tidak lagi melihat keikhlasanmu. Sebab, jika engkau merasa telah ikhlas, maka keikhlasanmu itu sendiri masih membutuhkan keikhlasan lagi (agar terhindar dari rasa bangga diri/ujub)."
Imam Ayyub:* "Memurnikan niat dalam suatu amal jauh lebih berat bagi para pelaku amal daripada melakukan amal itu sendiri."
Imam Suhail: Ketika ditanya apa yang paling berat bagi jiwa, beliau menjawab: "Ikhlas, karena jiwa tidak memiliki bagian keuntungan apa pun di dalamnya."
Imam Fudhail bin Iyadh: "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."
Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita menuju kemurnian niat dalam setiap tarikan napas dan langkah kaki.
Sumber : تصفية القلوب وتهذبتها
Oleh : @aliadahonline