31. Hakikat Tawakal: Menautkan Hati, Menggerakkan Raga
Tawakal adalah ketulusan hati dalam bersandar kepada Allah Azza wa Jalla. Di sinilah tempat kita menyerahkan segala urusan, baik untuk meraih kebaikan maupun menolak keburukan, demi kemaslahatan dunia dan akhirat.
Buah Manis Taqwa dan Tawakal
Ketika ketakwaan dan tawakal menyatu di dalam jiwa, seorang hamba akan dicukupkan seluruh urusan agama dan dunianya. Allah Swt. berfirman dalam Surah At-Talaq: "...Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..."
Kunci Penjemput Rezeki: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sekiranya kita bertawakal dengan sebenar-benarnya, Allah akan memberi rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar di pagi hari dan pulang dalam kondisi kenyang di sore hari.
Pilar Utama Iman: Abu Hatim Ar-Razi menyebut hadis ini sebagai fondasi utama dalam bertawakal sekaligus sebab terbesar datangnya rezeki. Bahkan, Said bin Jubair menegaskan bahwa tawakal adalah muara atau kesimpulan dari seluruh keimanan.
Harmoni Antara Ikhtiar dan Tawakal
Bertawakal secara benar sama sekali tidak menafikan usaha (sebab-akibat) yang telah Allah tetapkan di dunia ini. Allah Swt. memerintahkan kita untuk berusaha, sekaligus memerintahkan kita untuk berserah diri.
Sinergi Raga dan Hati: Menggerakkan fisik untuk berikhtiar adalah bentuk ketaatan kepada Allah, sedangkan menyandarkan hati sepenuhnya kepada-Nya adalah wujud keimanan. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 71: "Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kalian..."
Keseimbangan yang Indah: Ulama besar, Sahl, mengingatkan bahwa mencela usaha (bekerja dan mencari nafkah) berarti mencela sunah Nabi, sedangkan mencela tawakal berarti mencela keimanan. Tawakal adalah kondisi batin Nabi, sementara bekerja adalah jalan hidup (sunah) beliau.
Sebuah Renungan Suci: Ada sebuah ungkapan bijak yang patut kita renungkan bersama: "Mengabaikan usaha (sebab) adalah cacat dalam syariat, sedangkan bergantung sepenuhnya pada usaha adalah cacat dalam tauhid."
Yusuf bin Asbath juga berpesan agar kita bekerja keras layaknya seseorang yang sadar bahwa ia hanya bisa selamat melalui usahanya, namun di saat yang sama bertawakallah layaknya seseorang yang pasrah bahwa tiada yang menimpanya kecuali apa yang telah ditakdirkan untuknya.
Tiga Kategori Amal Manusia dalam Bertawakal
Secara garis besar, perbuatan hidup seorang hamba terbagi menjadi tiga kelompok utama:
Kategori 1: Ibadah dan Ketaatan
Inilah perintah Allah yang menjadi jalan keselamatan dari siksa neraka dan karcis menuju surga. Amalan ini wajib ditunaikan sembari memohon pertolongan dan bertawakal kepada-Nya, karena tiada daya dan upaya melainkan atas kehendak Allah. Kelalaian dalam hal ini mengundang konsekuensi hukum dan dosa.
Kategori 2: Kebutuhan Fitrah Manusia
Segala hal yang secara alami mengalir dalam hukum adat duniawi, seperti makan saat lapar, minum saat haus, berteduh dari terik, atau menghangatkan diri dari dingin. Berikhtiar memenuhi kebutuhan ini hukumnya wajib. Seseorang yang sengaja menelantarkan dirinya hingga celaka—padahal ia mampu—dianggap melampaui batas dan layak menerima sanksi.
Kategori 3: Ikhtiar yang Bersifat Kondisional (Seperti Pengobatan)
Hal-hal yang umumnya berlaku di dunia, namun adakalanya Allah merengkuh hukum adat tersebut demi hamba yang dikehendaki-Nya, salah satu contohnya adalah berobat saat sakit.
Catatan Penutup untuk Jiwa yang Beriman
Para pendahulu kita yang saleh, seperti Mujahid, Ikrimah, dan An-Nakha'i menegaskan bahwa tidak ada kelonggaran bagi siapa pun untuk meninggalkan ikhtiar sama sekali. Pengecualian hanya berlaku bagi mereka yang hatinya telah benar-benar terputus dan bersih dari segala bentuk pengharapan kepada sesama makhluk.
Saat Ishaq bin Rahawaih ditanya, "Apakah seseorang boleh memasuki padang pasir yang tandus tanpa membawa perbekalan?" Beliau menjawab dengan sangat bijak: "Jika ia memiliki kualitas iman seperti Abdullah bin Jubair, ia boleh melakukannya. Namun jika tidak, maka jangan pernah sekali-kali ia mencobanya."